CANDU CINTA MEMBAWA DERITA
Cara kita memandang cinta antarlawan jenis ternyata masih sering “dininabobokan” oleh persepsi yang belum tentu benar. Kenapa ketika cinta ditolak, orang bisa bunuh diri? Ayo bangun, lihat dan evaluasi apakah kita sudah mencintai seseorang secara tepat dan apakah hubungan cinta yang kita bina selama ini sehat?
Putu Suardika (17), seorang pelajar SMA, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri gara-gara cintanya ditolak (Bali Post, 14 Desember 2004). Di tempat dan waktu yang lain, Fachrul (19) menenggak apotas karena keinginan kembali kepada mantan pacarnya ditolak mentah-mentah (Suara Merdeka, 1 September 2006). Peristiwa lainnya, Ainul Yaqin, mahasiswa semester 7 Fakultas Teknik Sipil dan Pemukiman, Jurusan Geodesi ITS, gantung diri di kampusnya setelah cintanya ditolak (Blog Afif, 21 September 2006).Tiga kisah tragis itu tentu hanya sebagian kecil kisah mengenaskan seputar cinta antardua anak manusia berlainan jenis. Betapa panah asmara yang terlepas dan tidak mengenai sasaran bisa berubah bak bumerang tanpa si pelempar bisa menangkapnya secara benar. Kasus percintaan yang gagal dan berakhir dengan kematian tidak melulu milik Indonesia. Sejumlah kasus di dunia menunjukkan hal itu.Dalam situasi tertentu, “Cinta itu bisa berubah menjadi virus yang mematikan,” kata Frank Tallis, ahli kejiwaan dari Inggris. Sementara Prof. Alex Garner, salah seorang anggota The British Psychological Society, menyatakan, orang yang patah hati terperosok dalam keadaan putus asa dan tidak memiliki harapan. Umumnya, mereka merasa kecewa, pesimis, rendah diri, minder, depresi, sulit tidur, terus-menerus menangis karena sedih. Ada pula yang berulang-ulang memeriksa pesan pendek di ponselnya atau sibuk mengecek surat elektroniknya.
Jangan cinta membelenggu.
Atas kisah-kasih gagal itu, psikolog Dra. Ieda Pernomo Sigit menilai terkadang betapa konyolnya orang memaknai cinta. Menurut dia, selama ini telah terjadi salah persepsi di tengah masyarakat tentang cinta. Contoh persepsi yang salah itu antara lain, “Cinta itu memiliki dan harus mau berkorban”. Ketika cinta diyakini harus memiliki, maka seseorang tidak rela hubungan cintanya disudahi. Ia pun tak rela melihat si mantan kini bersama orang lain.
Ieda mengingatkan, persepsi cinta yang salah akan mengubah cinta menjadi candu. Ini yang harus diwaspadai, sebab candu bisa melenakan si pengguna. Candu pertama yang patut diwaspadai ialah perilaku obsesif. Ciri orang berkepribadian obsesif, ia tidak pernah nyaman dengan dirinya sendiri. Sekali harapannya tak terwujud, ia akan tenggelam dalam perasaan gagal dan tak berharga.
Pikiran seorang obsesif selalu dipenuhi munculnya perasaan bahwa sang kekasih akan meninggalkannya. Di matanya sang pasangan adalah orang yang amat sempurna, sehingga harus “dijaga” dengan baik agar tidak pindah ke lain hati. Inilah cermin rasa tidak percaya diri dan menganggap dirinya tidak cukup baik untuk mendampinginya. Begitulah, saat “anugerah cinta” singgah di hatinya, ia rela melakukan apa saja demi mempertahankan hubungan itu. Celakanya, pada banyak kasus orang obsesif yang kasmaran kerap dimanfaatkan pasangannya.
Candu kedua yaitu cinta yang mengarah ke posesif. Pada kondisi ini, seorang pasangan menginginkan pasangannya berlaku seperti yang dimauinya. Seperti si obsesif, si posesif juga tidak mau berpisah dengan pasangannya sehingga akhirnya ia menyiksa diri.
Mengapa hal-hal seperti itu bisa terjadi? “Ada kekosongan diri pada si pemuja cinta ini,” tutur Ieda. Harapannya, kekosongan itu bisa ditutup oleh pasangannya. Terjadilah ketergantungan diri. Sayangnya, mereka tidak sadar memelihara kebodohan yang berkepanjangan. Ieda menyebut cinta seperti itu adalah cinta yang tidak sehat.
Tak sedikit orang yang masih berkubang dalam cinta seperti itu. Mereka berpikir cinta, padahal bukan. Ungkapan-ungkapan seperti “Saya melakukannya karena saya cinta kepada dia” atau “Dia memperlakukan saya seperti ini karena dia mencintai saya” hanyalah ilusi perasaan. “Saya menyebutnya terbelenggu karena sebetulnya dia mungkin mencintai, tapi yang dicintai ini belum tentu mencintai.”
Rasa dan rasio
Cinta pada dasarnya memberi. “Karena saya mencintai seseorang, maka saya ingin memberikan yang terbaik buat dia, ingin membahagiakan dia, bisa membuat hidupnya menjadi indah. Artinya, saling mencintai bisa terjadi bila kedua belah pihak saling membahagiakan, saling memberi, memperhatikan, dan menyayangi. Tapi bila kenyataannya hanya salah satu pihak yang memberi dan berkorban, orang itu terbelenggu oleh cintanya sendiri. Karena yang terjadi sesungguhnya, cintanya tidak dibalas sebagaimana mestinya oleh pasangannya. Itulah yang saya maksud dengan dimanfaatkan. Tepatnya memanfaatkan rasa cinta pasangannya untuk kepentingannya sendiri. Ini juga berlaku untuk orang yang sudah menikah. Karena kadang pengorbanan istri tak pada tempatnya.”
Ieda menyadari, penilaian tentang hal-hal di atas bisa bikin merah kuping yang mendengarkan. “Pasti enggak enak ya didengarnya, orang mencintai kok dibilang dimanfaatkan. Tapi itulah faktanya. Saya menggunakan istilah itu dengan maksud agar orang terjaga untuk melihat apakah saya ini dicintai atau dimanfaatkan. Kesadaran seperti ini harus dibangun. Karena atas nama sosial budaya dan segala macam opini, orang terperangkap pada pengertian yang salah tentang cinta, sehingga akhirnya mereka masuk pada penyiksaan yang ia ciptakan sendiri. Misalnya, dia tidak mengerti apa artinya pengorbanan. Justru dia berkorban untuk hal yang tidak perlu,” tegas Wakil Ketua Umum Himpunan Psikolog Indonesia ini.
Dalam beberapa kasus, perempuan meyakini bahwa dengan berkorban, maka cintanya akan dibalas oleh orang yang saat ini belum mencintai dirinya. Analoginya, batu saja kalau ditetesi air terus-menerus bisa bolong. Opini macam ini kadang menjerumuskan. “Cinta bukan batu. Cinta enggak bisa dipaksa. Selama ini kita salah menempatkan analoginya.”
Bagi yang sedang dilanda asmara, Ieda berharap untuk tidak terseret arus opini yang dibangun masyarakat. Seperti bagaimana cara mencintai laki-laki. Ieda mengingatkan bahwa orang per orang sangat individual. “Ukurlah sendiri dengan menggunakan ukuran khusus orang yang bersangkutan. Karena kalau tidak, perempuan menjadi korban terus.”
Lalu bagaimana cara mengetahui apakah kita dimanfaatkan atau tidak? “Cinta itu menggunakan rasa dan rasio. Tanya jujur dalam hati, hubungan ini wajar atau tidak. Evaluasi juga, apa saja yang terjadi dalam hubungan selama ini. Apakah betul cinta? Kalau ternyata lebih banyak berkorban dan tidak menerima yang seharusnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa kita telah dimanfaatkan pasangan. Ukuran mencintai ‘kan timbal-balik. Saling memberi. Kalau seorang wanita atau istri berkorban terus- menerus, saya menilai ia dimanfaatkan,” tegas psikolog yang berpraktik di kawasan Galur, Jakarta Pusat ini.
Buatlah neraca cinta
Hasil evaluasi tadi bisa kita lontarkan kepada pasangan. Cuma, lihat dulu tipe pasangan kita. Kalau modelnya orang yang terbuka, kita bisa langsung melontarkan masalah ini dengan santai. Misalnya, mulai dengan definisi cinta yang menyiratkan ada keinginan untuk membahagiakan, meringankan beban, menyenangkan, memberi. “Lo, kok, saya enggak pernah terima nih, malah ngasih terus. Enggak take and give dong hubungan ini.”
Bisa jadi pasangan kita akan terhenyak sejenak. Biarkan ia mengecek ke dalam dirinya sendiri, atau bisa pula bertanya pada orang lain. Beri waktu pasangan untuk mengevaluasi. Nanti akan terjadi perubahan. “Mungkin pasangan atau suami tidak menyadari bahwa selama ini ia belum sepenuhnya memberi. Nah, sekarang ia menyadari bahwa ia lebih banyak disenengin daripada nyenengin pasangan. (Dengan kesadaran itu) maka hubungan bisa menjadi lebih baik.”
Hasil evaluasi hubungan itu bisa juga menyadarkan pasangan lainnya, bisa jadi dirinyalah yang egois selama ini. Terlalu banyak menerima atau menuntut, tapi memberi sedikit pada pasangannya. Dengan membuat “neraca cinta” seperti itu, masing-masing pihak bisa saling melakukan introspeksi diri sehingga hubungan cinta menjadi lebih sehat.
Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi kuat, memaafkan, dan tidak membenci. Tetapi ingat, rasio juga dipakai. Harus ada ukurannya, misalnya tepatkah memaafkan kesalahan. Kalau bolak-balik berbuat kesalahan yang sama, itu sih sama saja penyiksaan. Ada pula cara lain. Tanya pada diri sendiri, sebenarnya adakah rasa berat hati saat melakukan pengorbanan itu untuk pasangan. Idealnya, suatu hubungan asmara tidak boleh berat sebelah dan mendatangkan rasa nyaman pada kedua belah pihak. “Walaupun urusan cinta sangat melibatkan emosi, tetap kita tak boleh mengabaikan logika,” tegas Ieda.
Karena itu, telusuri cinta Anda selama ini. Dicintai atau dimanfaatkan? Jangan sampai ada Putu, Fachrul, dan Ainul Yaqin lainnya.
Sumber:
Intisari No. 523 TH. XLIV FEBRUARI 2007 dalam http://erwinzone.wordpress.com/2007/05/15/candu-cinta-membawa-derita/
CINTA ITU SUCI MURNI.. CINTAILAH CINTA!
C - Cintailah CINTA
I - Impikanlah Syurga Melalui CINTA
N - Nikmatilah Bahagia Hasil Dari CINTA
T - Tanpa CINTA Hidup Derita
A - Abadikanlah CINTA
“Cinta Monyet dan Cinta Nafsu Menodai Kesucian dan Keluhuran Cinta!”
“Pengkhianatan CINTA Akan Diminta Pertanggungjawaban Di Akhirat!”
Kisah-kisah yang dipetik dari buku “Road To Success” karya Dr.’Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni ini amat sewajarnyalah dihayati, diteladani dan dirindui oleh hati-hati orang Mukmin dan seluruh penCINTA!
Kisah 1: Cuba perhatikan kepada Habib bin Zaid r.a., seorang pemuda yang cerdik dan cerdas yang dengan ketegarannya berangkat menemui Musailamah Al-Kazzab si nabi palsu, lalu Musailamah memintanya untuk kembali dari agamanya (murtad dari agama Islam), tetapi dia menolak. Maka Musailamah memotong sebahagian dagingnya sehingga dia terjatuh ke tanah, namun Habib tetap menolak untuk murtad. Lalu dipotong lagi sebahagian dagingnya, namun dia tetap tegar dan menolak untuk murtad dan untuk kali ketiga dagingnya dipotong lagi hingga seluruh jasadnya habis terpotong! Semuanya ini dilakukannya semata-mata kerana CINTA!
Kisah 2: Cuba perhatikan lagi Abdullah bin Hadzafah As-Sahmi r.a. yang pergi berjumpa dengan raja Parsi, ada yang mengatakan menghadap raja Romawi, lalu dia melihat jasad-jasad kaum Muslimin yang direbus di dalam kuali-kuali besar. Maka si raja berkata kepadanya: “Mahukah kamu kembali dari agamamu (murtad dari Islam) dan kamu akan mendapatkan setengah dari kerajaanku?!” Dengan tegar Abdullah mengatakan: “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selainNya, seandainya kamu memberikan semua kerajaanmu dan kerajaan bapa dan nenek moyangmu, supaya saya kembali sedikitpun dari agamaku, saya tidak akan melakukan hal itu!” Bahkan lebih dari itu lagi, sebahagian kaum Muslimin ada yang dibakar dengan api, namun mereka tetap tegar mempertahankan kalimat “Laa Ilaaha IllalLah, Muhammadur Rasulullah” sehingga mereka menemui ajalnya. Semua ini pastinya kerana CINTA!
Kisah 3: Cuba hayati lagi tegarnya seorang Khubaib bin Adi r.a. yang dibawa menuju tiang gantung, tetapi dia dengan penuh keyakinan dan iman yang kuat sempat mendendangkan beberapa bait syair perjuangan dan pengorbanan:
“Saya tidak akan peduli, bagaimanapun bentuk kematianku ketika menghadap Allah.. Selagi kematianku sebagai seorang Muslim kerana Allah semata.
Kalau Sang Pencipta mengkehendaki, Dia akan memberkati serpihan-serpihan tubuhku dan percikan-percikan darahku yang tercincang dan berserakan!”
Hingga akhirnya, Khubaib r.a. menemui kesyahidannya dalam keadaan iman yang tegar, tidak murtad dari agamanya. Ketika Khubaib r.a. berada di tiang gantung, Abu Sufyan bin Harb berkata kepadanya: “Wahai Khubaib, relakah kamu sekiranya Muhammad SAW berada pada tempatmu ini?” Khubaib r.a. menjawab: “Demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaanNya, saya tidak akan rela berada di tengah-tengah harta dan keluargaku, sementara Nabi Muhammad SAW terkena duri sekalipun!” Sungguh.. Semuanya ini hanya kerana CINTA!
Kisah 4: (Kisah ini adalah kisah yang amat meruntun jiwa saya, semoga tetamu ziarah sekalian juga turut merasai demikian hendaknya). CINTA memang penuh misteri. Para pahlawan selalu maju ke medan perang dengan jiwa dan raga untuk meraih cita-cita dan CINTA yang tinggi. Adalah dikisahkan bahawa Imam Hadith An-Nablusi terbunuh ditusuk pisau tajam di jalan Allah. Setiap kali tusukan itu mengenainya, ia berkata, “Allah, Allah, Allah!”. Kemudian ia meninggal dunia dengan mengatakan, “Allah, Allah!..” Ahli sejarah mengatakan bahawa ketika darahnya mengering, tertulis di atas tanah kalimat “Allah, Allah, Allah!”. Wallahu a’lam. Sungguh semuanya ini adalah bukti CINTA!
Kerana CINTA dan demi bahagia, orang yang tidur nyenyak bangkit dari selimutnya yang hangat dan tempat tidurnya yang nyaman untuk melaksanakan Solat Subuh.
Kerana CINTA dan demi bahagia, pejuang memburu kematian dan menganggap berat kehidupan.
Kerana CINTA dan demi bahagia, mata berlinang dan hati bersedih saat diuji, namun lidah tidak sesekali mengatakan kecuali yang diredhai Tuhan.
CINTA bagaikan arus elektrik yang menjalar menjadi cas-cas dan tiba-tiba menjadi cahaya yang menerangi, hawa yang menghangatkan badan, dan tenaga yang menggerakkan benda.
CINTA bagaikan magnet yang menggerakkan planet, mengelompokkan bintang-gemintang dan menghimpun galaksi hingga tidak saling berlanggar antara satu sama lain.
Dengan CINTA, galaksi bersaudara di orbitnya hingga tidak terjadi dentuman.
--Last edited by Zykuys_Az on 2007-10-25 14:06:25 --
Jupiter
03-18-2008, 06:57 PM
Cara kita memandang cinta antarlawan jenis ternyata masih sering "dininabobokan" oleh persepsi yang belum tentu benar. Kenapa ketika cinta ditolak, orang bisa bunuh diri? Ayo bangun, lihat dan evaluasi apakah kita sudah mencintai seseorang secara tepat dan apakah hubungan cinta yang kita bina selama ini sehat?
Putu Suardika (17), seorang pelajar SMA, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri gara-gara cintanya ditolak (Bali Post, 14 Desember 2004). Di tempat dan waktu yang lain, Fachrul (19) menenggak apotas karena keinginan kembali kepada mantan pacarnya ditolak mentah-mentah (Suara Merdeka, 1 September 2006). Peristiwa lainnya, Ainul Yaqin, mahasiswa semester 7 Fakultas Teknik Sipil dan Pemukiman, Jurusan Geodesi ITS, gantung diri di kampusnya setelah cintanya ditolak (Blog Afif, 21 September 2006).
Tiga kisah tragis itu tentu hanya sebagian kecil kisah mengenaskan seputar cinta antardua anak manusia berlainan jenis. Betapa panah asmara yang terlepas dan tidak mengenai sasaran bisa berubah bak bumerang tanpa si pelempar bisa menangkapnya secara benar. Kasus percintaan yang gagal dan berakhir dengan kematian tidak melulu milik Indonesia. Sejumlah kasus di dunia menunjukkan hal itu.
Dalam situasi tertentu, "Cinta itu bisa berubah menjadi virus yang mematikan," kata Frank Tallis, ahli kejiwaan dari Inggris. Sementara Prof. Alex Garner, salah seorang anggota The British Psychological Society, menyatakan, orang yang patah hati terperosok dalam keadaan putus asa dan tidak memiliki harapan. Umumnya, mereka merasa kecewa, pesimis, rendah diri, minder, depresi, sulit tidur, terus-menerus menangis karena sedih. Ada pula yang berulang-ulang memeriksa pesan pendek di ponselnya atau sibuk mengecek surat elektroniknya.
Jangan cinta membelenggu
Atas kisah-kasih gagal itu, psikolog Dra. Ieda Pernomo Sigit menilai terkadang betapa konyolnya orang memaknai cinta. Menurut dia, selama ini telah terjadi salah persepsi di tengah masyarakat tentang cinta. Contoh persepsi yang salah itu antara lain, "Cinta itu memiliki dan harus mau berkorban". Ketika cinta diyakini harus memiliki, maka seseorang tidak rela hubungan cintanya disudahi. Ia pun tak rela melihat si mantan kini bersama orang lain.
Ieda mengingatkan, persepsi cinta yang salah akan mengubah cinta menjadi candu. Ini yang harus diwaspadai, sebab candu bisa melenakan si pengguna.
Candu pertama yang patut diwaspadai ialah perilaku obsesif. Ciri orang berkepribadian obsesif, ia tidak pernah nyaman dengan dirinya sendiri. Sekali harapannya tak terwujud, ia akan tenggelam dalam perasaan gagal dan tak berharga.
Pikiran seorang obsesif selalu dipenuhi munculnya perasaan bahwa sang kekasih akan meninggalkannya. Di matanya sang pasangan adalah orang yang amat sempurna, sehingga harus "dijaga" dengan baik agar tidak pindah ke lain hati. Inilah cermin rasa tidak percaya diri dan menganggap dirinya tidak cukup baik untuk mendampinginya. Begitulah, saat "anugerah cinta" singgah di hatinya, ia rela melakukan apa saja demi mempertahankan hubungan itu.
Celakanya, pada banyak kasus orang obsesif yang kasmaran kerap dimanfaatkan pasangannya.
Candu kedua yaitu cinta yang mengarah ke posesif. Pada kondisi ini, seorang pasangan menginginkan pasangannya berlaku seperti yang dimauinya. Seperti si obsesif, si posesif juga tidak mau berpisah dengan pasangannya sehingga akhirnya ia menyiksa diri.
Mengapa hal-hal seperti itu bisa terjadi? "Ada kekosongan diri pada si pemuja cinta ini," tutur Ieda. Harapannya, kekosongan itu bisa ditutup oleh pasangannya. Terjadilah ketergantungan diri. Sayangnya, mereka tidak sadar memelihara kebodohan yang berkepanjangan. Ieda menyebut cinta seperti itu adalah cinta yang tidak sehat.
Tak sedikit orang yang masih berkubang dalam cinta seperti itu. Mereka berpikir cinta, padahal bukan. Ungkapan-ungkapan seperti "Saya melakukannya karena saya cinta kepada dia" atau "Dia memperlakukan saya seperti ini karena dia mencintai saya" hanyalah ilusi perasaan. "Saya menyebutnya terbelenggu karena sebetulnya dia mungkin mencintai, tapi yang dicintai ini belum tentu mencintai."
Rasa dan rasio
Cinta pada dasarnya memberi. "Karena saya mencintai seseorang, maka saya ingin memberikan yang terbaik buat dia, ingin membahagiakan dia, bisa membuat hidupnya menjadi indah. Artinya, saling mencintai bisa terjadi bila kedua belah pihak saling membahagiakan, saling memberi, memperhatikan, dan menyayangi. Tapi bila kenyataannya hanya salah satu pihak yang memberi dan berkorban, orang itu terbelenggu oleh cintanya sendiri. Karena yang terjadi sesungguhnya, cintanya tidak dibalas sebagaimana mestinya oleh pasangannya. Itulah yang saya maksud dengan dimanfaatkan. Tepatnya memanfaatkan rasa cinta pasangannya untuk kepentingannya sendiri. Ini juga berlaku untuk orang yang sudah menikah. Karena kadang pengorbanan istri tak pada tempatnya."
Ieda menyadari, penilaian tentang hal-hal di atas bisa bikin merah kuping yang mendengarkan. "Pasti enggak enak ya didengarnya, orang mencintai kok dibilang dimanfaatkan. Tapi itulah faktanya. Saya menggunakan istilah itu dengan maksud agar orang terjaga untuk melihat apakah saya ini dicintai atau dimanfaatkan. Kesadaran seperti ini harus dibangun. Karena atas nama sosial budaya dan segala macam opini, orang terperangkap pada pengertian yang salah tentang cinta, sehingga akhirnya mereka masuk pada penyiksaan yang ia ciptakan sendiri. Misalnya, dia tidak mengerti apa artinya pengorbanan. Justru dia berkorban untuk hal yang tidak perlu," tegas Wakil Ketua Umum Himpunan Psikolog Indonesia ini.
Dalam beberapa kasus, perempuan meyakini bahwa dengan berkorban, maka cintanya akan dibalas oleh orang yang saat ini belum mencintai dirinya. Analoginya, batu saja kalau ditetesi air terus-menerus bisa bolong. Opini macam ini kadang menjerumuskan. "Cinta bukan batu. Cinta enggak bisa dipaksa. Selama ini kita salah menempatkan analoginya."
Bagi yang sedang dilanda asmara, Ieda berharap untuk tidak terseret arus opini yang dibangun masyarakat. Seperti bagaimana cara mencintai laki-laki. Ieda mengingatkan bahwa orang per orang sangat individual. "Ukurlah sendiri dengan menggunakan ukuran khusus orang yang bersangkutan. Karena kalau tidak, perempuan menjadi korban terus."
Lalu bagaimana cara mengetahui apakah kita dimanfaatkan atau tidak? "Cinta itu menggunakan rasa dan rasio. Tanya jujur dalam hati, hubungan ini wajar atau tidak. Evaluasi juga, apa saja yang terjadi dalam hubungan selama ini. Apakah betul cinta? Kalau ternyata lebih banyak berkorban dan tidak menerima yang seharusnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa kita telah dimanfaatkan pasangan. Ukuran mencintai 'kan timbal-balik. Saling memberi. Kalau seorang wanita atau istri berkorban terus- menerus, saya menilai ia dimanfaatkan," tegas psikolog yang berpraktik di kawasan Galur, Jakarta Pusat ini.
Buatlah neraca cinta
Hasil evaluasi tadi bisa kita lontarkan kepada pasangan. Cuma, lihat dulu tipe pasangan kita. Kalau modelnya orang yang terbuka, kita bisa langsung melontarkan masalah ini dengan santai. Misalnya, mulai dengan definisi cinta yang menyiratkan ada keinginan untuk membahagiakan, meringankan beban, menyenangkan, memberi. "Lo, kok, saya enggak pernah terima nih, malah ngasih terus. Enggak take and give dong hubungan ini."
Bisa jadi pasangan kita akan terhenyak sejenak. Biarkan ia mengecek ke dalam dirinya sendiri, atau bisa pula bertanya pada orang lain. Beri waktu pasangan untuk mengevaluasi. Nanti akan terjadi perubahan. "Mungkin pasangan atau suami tidak menyadari bahwa selama ini ia belum sepenuhnya memberi. Nah, sekarang ia menyadari bahwa ia lebih banyak disenengin daripada nyenengin pasangan. (Dengan kesadaran itu) maka hubungan bisa menjadi lebih baik."
Hasil evaluasi hubungan itu bisa juga menyadarkan pasangan lainnya, bisa jadi dirinyalah yang egois selama ini. Terlalu banyak menerima atau menuntut, tapi memberi sedikit pada pasangannya. Dengan membuat "neraca cinta" seperti itu, masing-masing pihak bisa saling melakukan introspeksi diri sehingga hubungan cinta menjadi lebih sehat.
Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi kuat, memaafkan, dan tidak membenci. Tetapi ingat, rasio juga dipakai. Harus ada ukurannya, misalnya tepatkah memaafkan kesalahan. Kalau bolak-balik berbuat kesalahan yang sama, itu sih sama saja penyiksaan. Ada pula cara lain. Tanya pada diri sendiri, sebenarnya adakah rasa berat hati saat melakukan pengorbanan itu untuk pasangan. Idealnya, suatu hubungan asmara tidak boleh berat sebelah dan mendatangkan rasa nyaman pada kedua belah pihak. "Walaupun urusan cinta sangat melibatkan emosi, tetap kita tak boleh mengabaikan logika," tegas Ieda.
Karena itu, telusuri cinta Anda selama ini. Dicintai atau dimanfaatkan? Jangan sampai ada Putu, Fachrul, dan Ainul Yaqin lainnya.
KISAH INI DITULIS OLEH SESEORANG YANG SEDANG SEDIH KARENA DITINGGALKAN OLEH ORANG YANG PALING DICINTAINYA
Pada suatu hari pada saat liburan sekolah, aku pergi bertamasya dengan teman2 sekolahku, dan diantara teman2ku ada seorang cewek yang manis dan supel. Dan aku tertarik dengan dia. Kita menghabiskan masa liburan digunung. Pada hari ke 2 kita pergi ke tempat air terjun, dan untuk sampai ke air terjun kita harus berjalan kaki melewati anak tangga yang yang terjang. Banyak anak2 cewek lebih memilih menunggu diatas daripada ikut turun ke air terjun. Dan kebetulan cewek yang kutaksir ikut turun. Jadi aku tidak menyia2kan kesempatan ini. Aku selalu berusaha di sampingnya untuk membantu dia menuruni anak tangga. Entah sial atau beruntung, di tengah perjalanan pas naik keatas hujan tiba2 turun. Dan lumayan deras. Jadi kita semua kehujanan. Aku yang kebetulan memakai jaket yang tebal sedangkan cewek yang ku taksir tidak memakai jaket. Jadi sebagai lelaki dan emang aku ga tega melihat dia kedinginan apalagi kita berada di pegunungan jadi aku meminjamkan jaketku yang tebal dan tahan air ke dia. Aku rela aku yang kehujanan dan kedinginan. Aku tidak merisaukan itu semua yang penting si dia tidak kedinginan. Dan juga aku berusaha membantu dia naik tangga dikarenakan sangat licin. Pada hari itu aku sangat bahagia karena saya bisa menunjukan rasa sayang aku kepada dia. Sesampai di vila teman2 aku yang melihat kebaikan aku kepada si dia menginterogasi dia.( sambil bercanda gitu). Ya biasa lah masih SMA. Ditanyanya dia apakah dia suka ma aku , aku orangnya bagaimana dan banyak lagi soalnya saya hanya dengar sekilas dan saya juga ga tau jawabannya apa. Besoknya kita telah pulang berlibur, yang pastinya saya pulang dengan keadaan yang bahagia.
Hari pertama sekolah saat liburan selesai saya dikerjain teman2 saya. Mereka menulis surat kepada cewek yang aku taksir tersebut yang isinya mengatakan bahwa aku sayang dia, mencintai dia dan kenang-kenangan indah pada saat di air terjun. Aku tahu saat temanku menulis surat itu tapi aku tidak melarangnya dikarenakan aku pikir cewek tersebut pasti akan tahu kalau itu Cuma main2 dari teman2 saya dan juga emang yang ditulis disurat itu sesuai dengan perasaan aku ke dia. Tapi surat itu ditanggapi serius oleh cewek tersebut. Jadi pada saat les sore dia balas surat tersebut dan dikasihnya ke saya. Isi suratnya mengatakan kalau dia belum mau pacaran dan dia masih merasa trauma pacaran karena dia pernah ditinggalkan mantannya dengan begitu saja. Jadi dia bilang kita temanan saja dulu. Aku yang membaca surat tersebut tiba2 sedih. Rasanya jantung berhenti beberapa detik. Pikiranku kacau. Aku sudah ditolak sebelum aku menyatakan cintaku ke dia.Jadi sewaktu pulang les. Aku meneleponnya. Aku bilang ke dia kalau itu kerjaan teman aku. Bukan aku yang tulis meskipun aku tahu semua itu.dan dia mengerti.
Sejak kejadian itu aku melakukan pendekatan ke dia. Aku sering ke rumahnya dan ngajak dia jalan2. pernah suatu hari untuk menghadiri pesta peresmian spanduk kelas sebelah. Aku ngajak dia pergi, mula2nya dia menolak tapi karena saya da beli 2 tiket jadi dia pikir2 dl dan dia mau tanya ke neneknya dulu dikasih pergi atau ngak. Lupanya neneknya mengizinkan dia pergi(menurut pengakuan dia biasanya neneknya ga mengizinkan pergi apalagi malam pulangnya tapi kok ama aku diizinin).
Pada tanggal ?x? bulan ?x? tahun 2003 aku mengajaknya pergi jalan ber2. pada saat tengah perjalanan pulang didalam mobil aku menyatakan isi hatiku ke dia. Aku bilang ? U mau kasih aku kesempatan tuk menghilangkan trauma u dalam pacaran. Maukah kamu memberi aku kesempatan tuk menghilangkan image kalu laki2 itu baji?.?dia jawab ? Maksudnya?? Aku jawab? Ya aku mau kita menjalin hubungan yang lebih serius.?dan Katanya ?Jadi maksud u kita pacaran? setelah lama berdiskusi akhirnya dia jawab kalau dia mau jadi pacarku. Aku masih mengingat saat itu jam menunjukan pukul 6 lewat dan di jembatan dekat rumahnya. Tapi dia bilang karena dia mau melanjutkan pendidikannya di kota J. jadi kalau emang aku juga melanjutkan pendidikan aku disana dia baru mau soalnya dia ga mau pacaran jarak jauh.ga enak katanya(dia telah pernah merasakan).Pada saat itu juga aku langsung menyanggupinya. Karena besarnya cintaku kepadanya dan aku mau berada disisinya saat dia sedih maupun senang dan berusaha untuk melindunginya. Saat itu juga aku bilang ke dia kalau aku akan selalu bersikap sabar ke dia. Dia Tanya lagi ?kan kesabaran orang ada batasnya? Aku tersenyum dan bilang aku akan berusaha. Semenjak hari itu hidupku berubah aku yang dulunya setiap hari dilalui dengan berjudi telah kutinggalkan karena aku tahu dia tidak suka itu dan juga dia tidak suka aku merokok, meskipun aku jarang ngerokok. Tapi semenjak pacaran ma dia aku berusaha untuk tidak merokok.
Singkat cerita kita pacaran da 4 tahun lebih dan selama itu hubungan kita baik. Sangat baik pun. Aku sangat mencintainya. Hampir setiap hari kita ketemu. Dan selama itu juga aku sering ikt dia untuk kedaerahnya atau dia yang kedaerahku. Jadi hubungan kita dengan keluarga dia dan aku juga sudah sangat baik. Selama 4 tahun lebih itu dia mengajarkan wa untuk berhemat dan masih banyak lagi hal2 positif yang ditanamkan dia ke saya. Jika kita sedang ada masalah dia sering bilang kalau saya ga seperti dulu lagi da berubah(maksudnya da ga sebaik dl). Tapi sebenarnya aku ngak berubah. Aku semakin mencintai dia. Dan setiap dia bilang itu aku semakin berusaha untuk lebih mencintai dia. Setiap ada masalah kebanyakan aku mengalah karena aku ga mau hubungan kita putus. Aku benar2 ga sanggup untuk kehilangan dia. Suatu saat kita harus berpisah lumayan lama 4-5 bulan lamanya. Dikarenakan kita telah menyelesaikan kuliah kita masing2 dan saya harus pulang ke daerah saya karena ada alasan tertentu dan alasan itu ada sangkut pautnya untuk bisa membahagiakan dia. Dan dia juga harus pulang ke daerahnya untuk sementara waktu juga untuk membantu usaha bokapnya dan alasan2 lain.dia mau ikt saya ke daerah saya setelah wisuda dan cari kerja di daerah saya.Dan selama itu aku bilang ke dia aku ga bisa sering2 telepon dia karena aku harus berhemat karena untuk dia juga nantinya dan dia mengerti akan hal itu Saat di daerah saya berusaha mencari kerja karena saya mau memberi dia hadiah Ulang Tahunnya(beberapa bulan saat kepulangan aku ke daerah) dengan uang yang saya hasilkan sendiri Disaat mau pergi kerja aku berangkat dengan hati yang gembira karena uang ini nantinya akan saya gunakan untuk mengajak jalan2 pacar saya nanti pas dia kedaerah saya. Karena aku da menghasilkan uang sendiri yang selama ini aku memakai uang orang tua saya. Hari2 itu selalu kutunggu untuk membawanya jalan2. dan saya juga selama bekerja berhemat2 karena saya mau memberikan hadiah yang istimewa pada saat hari ultahnya dengan memakai uang hasil keringat sendiri.Itu emang keinginan aku selama aku berpacaran dengan dia. (Bisa memberikan dia hadiah dengan uang sendiri).
Saat aku telah tidak bertemu dengan dia telah 2 -3 bulan, hal yang sangat tragis menimpa aku. Hal yang paling aku takutkan terjadi padaku. Dia memutuskan hubungan aku dengan dia. Saat itu aku sangat sedih aku tidak bisa tidur seharian.aku tidak mengerti mengapa hal itu terjadi.Selama ini aku telah berusaha berbuat yang terbaik untuk dia. setiap tindakan yang aku lakukan dengan mempertimbangkan perasaan dia. aku berusaha melindungi dia. mengapa usahaku selama 4 tahun sia2 hanya karena satu kata ?putus?. Mengapa dia mengambil keputusan ini tidak memikirkan perasaan ku. Sampai paginya aku langsung ke bandara dan naik pesawat ke daerah asalnya tapi pesawat untuk ke daerah asalnya tidak ada jadi aku transit ke Jakarta dl baru melakukan perjalanan dengan kapal laut ke daerah asalnya. Di dalam pesawat dan kapal air mataku keluar dengan sendirinya. Aku sangat sedih.dari jam 6 pagi wa berangkat dari daerah asalku dan sampai rumahnya da jam 7 malam. Saat ketemu dia aku bilang ke dia aku ga bisa kehilangan dia, aku benar2 mencintai dia. dll. Dirumahnya aku juga ga bisa tidur padahal aku sudah lelah banget. Pada pagi hari dia masuk ke kamar aku dan kita berdebat lagi. Akhirnya dia bilang kalau dia mau balik ke aku lagi. Saya pun dah harus balik ke daerah asalku karena wa masih kerja.beberapa hari setelah kejadian itu kita menghadapi masalah lagi.hubungan kita hampir dipastikan tidak bisa dipertahankan lagi. Tapi saya bilang ke dia tunggu sampai wisuda baru kasih aku kepastian. Beri aku kesempatan untuk menunjukan kalau aku benar2 ga bisa kehilangan u. semua hal itu aku lakukan karena aku mau memberinya hadiah pada saat Ultahnya. Karena Ultahnya sebelum wisuda. Aku sudah pasrah dengan keadaan ini, emang selama ini aku masih sangat sedih. Setiap pagi antara jam 4-5 aku pasti terbangun dan memikirkan dia dan sering air mataku keluar padahal da aku tahan2. Mengapa aku begitu BOdoh? Mengapa aku Begitu Lemah? Ini semua dikarenakan besarnya cintaku kepada dia. apapun keputusannya akan kuterima saat sehari setelah wisuda. Meskipun itu sangat menyakitkan untuk saya. Karena saya ingin ke daerah asalnya lagi dan kasih dia hadiah pada saat ultahnya dan sekaligus aku ingin melihat senyumnya. Aku kagen benar ma dia. aku ga bisa sabar hingga menunggu wisuda lagi.( meskipun tgl 2 minggu). Jadi aku berhenti kerja. Tapi entah mengapa dia tahu kalau saya mau ke daerah asalnya. (Saya ga blg ke dia kl saya mau ke daerah asalnya). Jadi dia tlp saya dan suruh saya untuk tidak ke daerah asalnya. Tapi aku tetap bersikeras mau ke daerah asalnya. Dia bilang percuma aja aku kesana karena hasilnya tetap akan sama yaitu hubungan kita putus dan akan menambah masalah tambah lunyam dan alasan2 lain yang menurutnya demi kebaikan saya juga. Dan karena saya kesana bukan mau memaksa dia untuk balik ma aku, aku hanya mau kasih dia hadiah yang menurut aku sangat berharga yang hanya mau kuhadiahkan pada org yang paling aku cintai yaitu dia dan ingin melihat senyumnya, jadi aku bersikeras tetap mau kesana. Jadi akhirnya dia bilang daripada membuat aku tambah susah sebaiknya kita selesaikan saja masalah ini sekarang. Dan tidak ada pilihan lain tuk aku.Hanya satu pilihan yaitu hubungan kita putus.
Setelah aku menepati janji aku untuk menghilangkan traumanya dalam pacaran sekarang saya yang dibuatnya trauma dalam pacaran.Bisakah aku mencintai seseorang lagi setelah apa yang aku lakukan tuk orang yang aku cintai akhirnya akan membuat aku menderita? Jadi saat aku menulis ini aku dalam keadaan yang menyedihkan, sangat menderita, air mata bercucuran. Entah sampai kapan aku ini semua akan berakhir. Satu tahun dua tahun atau mungkin selamanya aku akan begini.Cobaan ini sangat berat. Entah aku bisa melewatinya atau tidak. Sering kali terlintas dalam benak aku untuk mengakhiri hidup ini. Tapi aku tidak sanggup. Aku masih harus membahagiakan ke2 ortu aku. Dan kalau aku lakukan itu aku sangat bodoh TUHAN telah memberi aku kehidupan ini tapi aku menyia-nyiakannya dan kalau aku melakukan ini dia juga pasti akan sedih. Sekarang aku mengerti mengapa seseorang bisa begitu bodoh mengakhiri hidupnya karena masalah cinta. Ha3(Joke-Joke)
Teman2, kerabat dan saudara2 doakan aku dapat melewati cobaan ini. Dan Tolong Doakan kebahagiaan Cewek tersebut. Karena aku sangat Mencintainya. Apapun yang telah di perbuat, apapun yang telah terjadi dia tetap akan ada dihatiku. Semoga dia menyadari ketulusan hatiku ini.
?Maafkan aku jika apa yang telah aku lakukan selama ni membuat u sedih dan benci padaku
Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih
Apa yang aku lakukan selama ni hanya lah mau membuat kamu bahagia
Mungkin aku tak pahami bagaimana cara tuk tunjukan maksudku
Ku hanya mau jadi terbaik tuk mu?
Janganlah bersedih kalau kita menderita diatas kebahagiaan orang dan janganlah senang kalau kita bahagia diatas penderitaan orang.Hidarilah kebahagiaan diatas penderitaan orang maka tidak akan ada yang menderita diaatas kebahagiaan orang.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar